Wali Kota Munafri Tinjau Lokasi Banjir di Biringkanaya, Siapkan Solusi Penanganan Sungai Biring Je’ne

Dalam peninjauan tersebut, Munafri didampingi Sekretaris Daerah Kota Makassar Andi Zulkifly Nanda, Kepala Pelaksana BPBD Makassar M. Fadli Tahar, Camat Biringkanaya Juliaman, serta lurah setempat. Wali Kota menyusuri sejumlah titik genangan sambil mendengarkan langsung keluhan dan aspirasi warga.

Munafri mengatakan, peninjauan ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kota Makassar untuk mencari solusi permanen terhadap persoalan banjir yang kerap terjadi setiap musim hujan, khususnya di kawasan Katimbang dan Paccerakkang.

Bacaan Lainnya

“Kami datang untuk melihat langsung kondisi di lapangan. Tujuannya adalah mencari solusi terbaik bagi masyarakat. Wilayah ini hampir setiap tahun menjadi langganan banjir, sehingga perlu penanganan yang serius dan menyeluruh,” ujarnya.

Baca Disini  Sinergi HMI dan Pemerintah, Wagub Harap Promosikan Sulsel Lewat Agenda L3

Ia menegaskan, kehadiran pemerintah di tengah masyarakat bertujuan memberikan rasa aman sekaligus memastikan penanganan banjir dilakukan secara terukur dan berkelanjutan.

Wilayah timur Kota Makassar memang dikenal sebagai salah satu titik rawan banjir. Hampir setiap tahun, warga Perumahan Kodam III hingga kawasan Jalan Paccerakkang harus menghadapi luapan air yang menyebabkan jalan tergenang dan aktivitas masyarakat terganggu.

Dalam peninjauan tersebut, Wali Kota yang akrab disapa Appi melihat langsung kondisi genangan yang menutup badan jalan, menghambat arus lalu lintas, bahkan menyebabkan sejumlah pengendara roda dua mengalami mogok.

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan keterangan warga, Munafri menjelaskan bahwa banjir dipicu oleh luapan air kiriman dari Sungai Biring Je’ne akibat tingginya intensitas hujan. Kondisi ini diperparah oleh terganggunya alur aliran air sehingga genangan tidak dapat mengalir dengan lancar.

“Dari hasil pengamatan dan informasi di lapangan, banjir ini disebabkan air kiriman dari Sungai Biring Je’ne yang meluap,” jelasnya.

Oleh sebab itu, ia menekankan perlunya perhatian bersama dari seluruh perangkat daerah terkait untuk menata kembali alur air, mengidentifikasi titik-titik sumbatan, serta memastikan jalannya air tidak terperangkap di kawasan permukiman.

Baca Disini  Pelantikan Pengurus HIPMI Culinary Indonesia (HCI) Sulawesi Selatan Masa Bakti 2025-2027

Pemerintah Kota Makassar, lanjut Munafri, akan melakukan identifikasi menyeluruh terhadap jalur aliran air, mulai dari hulu hingga ke titik pembuangan akhir. Hal ini bertujuan untuk mengetahui lokasi penyempitan, sumbatan, maupun perubahan fungsi lahan yang berdampak pada sistem resapan air.

“Ada beberapa titik yang harus kita telusuri, mulai dari arah aliran hingga pembuangannya. Biasanya terjadi penyempitan atau perubahan wilayah resapan menjadi kawasan pembangunan. Ini yang akan kita pastikan agar tertangani dengan baik,” paparnya.

Salah satu opsi yang akan dikaji adalah pembukaan atau penataan alur air baru agar air tidak lagi terperangkap di kawasan permukiman. Mengingat Sungai Biring Je’ne berada di wilayah perbatasan Kota Makassar dan Kabupaten Maros, penanganannya membutuhkan koordinasi lintas wilayah dan lintas sektor.

“Harapannya, dari peninjauan ini kita bisa menemukan solusi agar persoalan banjir tahunan di kawasan ini dapat teratasi,” tambahnya.

Munafri juga menegaskan pentingnya kesiapsiagaan seluruh perangkat daerah serta koordinasi dengan pemerintah terkait untuk menghadirkan solusi jangka pendek dan jangka panjang.

Baca Disini  Pemkot Makassar Helat Perayaan Natal ASN Perdana, Kepemimpinan Munafri-Aliyah Tegaskan Kota Inklusif

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Makassar terus memperkuat langkah mitigasi banjir, salah satunya dengan memasang Early Warning System di sepanjang Sungai Biring Je’ne. Sistem ini berfungsi memantau ketinggian dan debit air sungai secara real time sebagai peringatan dini bagi masyarakat.

Kepala BPBD Kota Makassar, Fadli Tahar, mengatakan pemasangan EWS merupakan bagian dari strategi pengurangan risiko bencana di wilayah yang secara historis rawan banjir.

“EWS ini membantu kami membaca kondisi sungai lebih cepat, sehingga masyarakat dan petugas memiliki waktu yang cukup untuk bersiap,” ujarnya.

Selain itu, BPBD juga menyiagakan Tim Reaksi Cepat selama 24 jam untuk melakukan pemantauan, asesmen dampak, serta membantu warga apabila terjadi peningkatan debit air secara signifikan.

BPBD Kota Makassar mengimbau masyarakat yang bermukim di sekitar bantaran Sungai Biring Je’ne untuk tetap waspada, mengikuti informasi resmi pemerintah, dan segera melaporkan kondisi darurat di lingkungannya. (*)

Loading


Eksplorasi konten lain dari iniklik

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan