Maniwa, Makassar, dan Eco Enzyme: Dari Komunitas Menuju Zero Carbon Society

Penulis : Mashud Azikin(Pemerhati Tata Kota dan Lingkungan)

INIKLIK.ID – Kerja sama antara Kota Maniwa di Prefektur Okayama dan Kota Makassar yang Nota Kesepahamannya ditandatangi hari ini, Jum’at 13 Februari 2026, di Makassar Government Centre, membuka ruang harapan tentang masa depan kota rendah karbon. Maniwa hadir dengan pengalaman panjang mengelola biomassa, mengolah limbah organik, dan membangun sistem sirkulasi energi. Makassar datang dengan dinamika kota pesisir yang padat, tantangan sampah yang kompleks, serta kekuatan komunitas yang terus bergerak di tingkat akar rumput.

Bacaan Lainnya

Namun, ada satu kenyataan yang sering luput dari perhatian: sebelum kerja sama internasional ini dibicarakan, gerakan ekologis telah lebih dulu hidup di masyarakat. Salah satunya adalah gerakan eco enzyme yang kini semakin meluas di berbagai komunitas lokal.

Di sinilah kita menemukan simpul penting antara Maniwa, Makassar, dan masa depan Zero Carbon Society.

Eco Enzyme: Praktik Sirkular dari Rumah Tangga

Eco enzyme lahir dari kesadaran sederhana: limbah organik rumah tangga tidak harus berakhir di tempat pembuangan. Sisa buah dan sayur difermentasi menjadi cairan multifungsi—digunakan sebagai pupuk, pembersih alami, hingga aktivator lingkungan.

Jika ditinjau secara ekologis, eco enzyme bekerja dalam prinsip yang sama dengan sistem sirkulasi Maniwa. Limbah organik tidak diperlakukan sebagai residu, tetapi sebagai sumber daya yang kembali ke tanah dan lingkungan.

Baca Disini  Menertibkan Kota, Menjaga Lingkungan, Memanusiakan Pedagang

Perbedaannya hanya pada skala dan terminologi. Di Maniwa, proses itu terjadi melalui fasilitas Manikurun dengan teknologi biogas dan pengolahan terintegrasi. Di Makassar, ia tumbuh dari dapur rumah tangga, komunitas, sekolah, dan kelompok warga.

Tetapi substansinya sama: membangun siklus kehidupan dari sisa-sisa yang ada.

Komunitas Lokal sebagai Laboratorium Ekologi

Gerakan eco enzyme di Makassar menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya telah memulai praktik circular economy jauh sebelum istilah itu populer.

Mereka memproduksi pupuk cair, mengurangi sampah organik, memperbaiki kualitas tanah, bahkan melakukan aksi lingkungan seperti penuangan eco enzyme di saluran air dan ruang publik.

Ini bukan sekadar aktivitas komunitas, melainkan laboratorium ekologi sosial. Di dalamnya ada pembelajaran, adaptasi, dan inovasi berbasis pengalaman sehari-hari.

Sayangnya, seperti banyak gerakan lokal lainnya, eco enzyme sering belum sepenuhnya diposisikan sebagai bagian dari sistem kota. Ia berjalan karena kesadaran warga, bukan karena desain kebijakan.

Di titik inilah kritik terhadap perilaku birokrasi menjadi relevan: kecenderungan untuk lebih cepat mengadopsi model luar, sementara gerakan lokal yang memiliki semangat dan substansi serupa belum dibina secara konsisten.

Padahal, jika dilihat jernih, eco enzyme adalah bentuk paling dasar dari low carbon lifestyle. Ia mengurangi emisi dari sampah organik, menekan kebutuhan pupuk kimia, dan membangun kesadaran ekologis dari rumah tangga.

Menyatukan Maniwa Model dan Eco Enzyme

Baca Disini  Penegakan Aturan dan Keadilan Jalan Tengah Penataan PKL

Kerja sama Maniwa–Makassar seharusnya tidak dipahami sebagai proses mengganti praktik lokal dengan teknologi luar. Justru sebaliknya, kerja sama ini dapat menjadi jembatan yang memperkuat gerakan eco enzyme agar naik kelas dari gerakan komunitas menjadi sistem kota.

Model Maniwa menawarkan kerangka: integrasi limbah–energi–pertanian. Eco enzyme menyediakan basis sosial: partisipasi warga, perubahan perilaku, dan kesadaran ekologis.

Jika keduanya dipertemukan, maka jalan menuju Zero Carbon Society menjadi lebih realistis.

Eco enzyme dapat menjadi tahap awal pengelolaan limbah organik di rumah tangga. Limbah yang tidak terolah dapat masuk ke pusat pengolahan skala kota seperti model Manikurun. Pupuk cair komunitas dapat diintegrasikan dengan sektor pertanian urban. Energi dari limbah organik dapat dikembangkan melalui teknologi biogas.

Dengan demikian, sistem kota tidak dibangun dari atas semata, tetapi bertumpu pada praktik yang sudah hidup di masyarakat.

Saran untuk Arah Kebijakan

Agar gerakan ini tidak berhenti sebagai inisiatif sporadis, diperlukan perubahan orientasi kebijakan.

Pertama, pengakuan resmi terhadap gerakan eco enzyme sebagai bagian dari strategi pengurangan emisi kota. Ini penting agar ia tidak dianggap sekadar kegiatan sosial, tetapi instrumen ekologis.

Kedua, penguatan kapasitas komunitas melalui pelatihan, fasilitas fermentasi kolektif, dan integrasi dengan program pengelolaan sampah kota.

Ketiga, pembangunan ekosistem sirkular: eco enzyme terhubung dengan urban farming, bank sampah, dan pusat pengolahan limbah. Di titik ini, komunitas menjadi simpul utama transformasi, bukan pelengkap.

Baca Disini  Menertibkan Kota, Menjaga Lingkungan, Memanusiakan Pedagang

Keempat, kerja sama Maniwa harus diarahkan untuk memperkuat apa yang sudah ada, bukan memulai dari nol. Teknologi mempercepat, tetapi kesadaran masyarakatlah yang menjaga keberlanjutan.

Ekologi, Kepercayaan, dan Masa Depan

Isu terbesar dalam pembangunan ekologis bukan semata teknologi atau pendanaan, melainkan kepercayaan: apakah kita percaya bahwa perubahan bisa dimulai dari masyarakat sendiri?

Maniwa berhasil karena percaya pada potensinya sebagai kota kehutanan.

Makassar memiliki peluang yang sama jika percaya pada komunitasnya—pada gerakan eco enzyme, bank sampah, urban farming, dan inisiatif warga lainnya.

Di sanalah Zero Carbon Society menemukan bentuknya yang paling nyata: bukan pada proyek besar, tetapi pada kebiasaan kecil yang dilakukan bersama.

Eco enzyme mungkin terlihat sederhana—fermentasi sisa dapur dalam wadah plastik. Tetapi di balik kesederhanaannya, ia menyimpan filosofi besar: bahwa kehidupan tidak menghasilkan sampah, hanya siklus.

Dan ketika siklus itu dipahami, dirawat, dan diperluas—dari rumah tangga ke komunitas, dari komunitas ke kota—maka kerja sama Maniwa dan Makassar tidak lagi sekadar program antarwilayah.

Ia berubah menjadi gerakan peradaban: gerakan yang menghubungkan teknologi, kebijakan, dan kesadaran warga dalam satu tujuan yang sama—masyarakat rendah karbon yang lahir dari kekuatan dirinya sendiri.

Loading


Eksplorasi konten lain dari iniklik

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan