Warga Patori Bangun Jalan Sendiri Setelah 20 Tahun Terlupakan

INIKLIK.ID

INIKLIK.ID- Warga Dusun Patori terus melanjutkan pengerjaan jalan penghubung menuju Tanaberu dengan semangat gotong royong yang semakin kuat. Di tengah minimnya perhatian selama puluhan tahun, masyarakat memilih bergerak sendiri, membuktikan bahwa solidaritas masih menjadi kekuatan utama di akar rumput.

‎Pembangunan jalan sepanjang kurang lebih 1,3 kilometer itu dilakukan secara swadaya oleh warga, dengan dukungan dana dari para perantau, pelaut, hingga pengusaha asal Patori yang tersebar di berbagai daerah.

‎Petrus, salah satu warga Dusun Patori, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi.

‎“Kami, masyarakat Patori, mengucapkan banyak terima kasih kepada para pemuda, pengusaha, perantau, dan pelaut asal Patori yang dengan sukarela menggalang dana untuk membantu pembangunan jalan ini,” ujarnya.

‎Namun di balik rasa syukur tersebut, Petrus juga menyuarakan kritik tajam terhadap peran pemerintah yang dinilai belum maksimal.

“Kami tidak bisa banyak berbicara, karena pada dasarnya tugas dan tanggung jawab dalam negara ini berada di tangan pemerintah. Pemerintah seharusnya hadir dan memperhatikan masyarakatnya dari waktu ke waktu, secara berkelanjutan.”

‎Ia menilai, kondisi yang dialami warga selama ini menimbulkan pertanyaan besar, terutama ketika masyarakat harus terus meminta tanpa hasil yang jelas.

‎“Jika masyarakat harus terus-menerus meminta, bahkan terkesan mengemis setiap saat, namun tidak mendapatkan apa-apa, maka ini tentu menjadi pertanyaan besar,” tegasnya.

‎Lebih jauh, Petrus menyinggung siklus janji politik yang kerap berulang setiap momentum lima tahunan.

‎“Setiap agenda lima tahunan selalu diwarnai janji. Seharusnya setelah itu, masyarakat tidak lagi harus kembali meminta, karena komitmen itu sudah disampaikan sebelumnya.”

‎Ia pun berharap ke depan ada perubahan nyata dalam pola kepemimpinan dan komitmen terhadap masyarakat.

‎“Siapa pun yang datang membawa janji, hendaknya terlebih dahulu menunjukkan bukti nyata. Jangan sampai janji hari ini, lima tahun kemudian hanya kembali menjadi janji tanpa realisasi,” ujarnya.

‎Menurut Petrus, jalan yang menghubungkan Desa Pematata hingga Tanaberu tersebut telah lama terabaikan.

‎“Kurang lebih 20 tahun jalan ini tidak pernah diperhatikan, padahal kami juga bagian dari negara ini,” katanya.

‎Meski rutin menjalankan kewajiban sebagai warga negara, termasuk membayar pajak, masyarakat belum merasakan dampak pembangunan secara merata.

‎“Kami tidak pernah lalai membayar pajak. Tapi sampai sekarang, kami belum merasakan manfaatnya secara nyata,” tambahnya.

‎Di tengah kondisi tersebut, masyarakat tidak tinggal diam. Selain mengandalkan bantuan perantau, warga juga aktif bergotong royong serta mengumpulkan dana secara mandiri untuk mempercepat pembangunan.

‎Semangat itu juga ditegaskan oleh Pasriadi, salah satu pemuda Dusun Patori, yang menyebut gerakan ini lahir dari kepedulian terhadap kampung halaman.

‎“Tujuan kami hanya satu, untuk kebaikan kampung dan masyarakat Patori,” katanya.

‎Ia menambahkan, kondisi jalan yang rusak selama puluhan tahun menjadi pemicu utama lahirnya gerakan kolektif tersebut.

“Sudah sekitar 20 tahun jalan ini rusak. Setiap kampanye selalu dijanjikan, tapi belum juga terealisasi,” jelasnya.

‎Kini, dengan gotong royong yang terus terjaga dan dukungan kuat dari para perantau, masyarakat Dusun Patori optimistis pembangunan jalan sepanjang 1.3 kilometer tersebut akan segera rampung dan bisa dimanfaatkan oleh seluruh warga.

‎“Dengan atau tanpa bantuan, kami akan tetap berusaha. Walaupun sedikit demi sedikit, pekerjaan ini pasti selesai,” tutup Petrus.

Loading

Tinggalkan Balasan