Oleh : Mashud Azikin (Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar)
Di sebuah pagi, yang tidak terlalu istimewa di Paccerakkang, Makassar, 26 April 2026, sesuatu yang sering kita anggap remeh—sisa dapur—mendapatkan takdir barunya.
Ia tidak lagi menjadi beban, tidak lagi berakhir sebagai angka statistik di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), melainkan berubah menjadi harapan. Harapan yang ditanam, secara harfiah, ke dalam tanah melalui lubang-lubang kecil bernama biopori.
Minggu itu, waktu berjalan seperti biasa. Matahari naik tanpa gegap gempita. Namun di RT 05 RW 02 Kelurahan Paccerakang Kec. Biringkanaya Kota Makassar, ada sesuatu yang diam-diam sedang diubah: cara pandang warga terhadap sampah
Di sana, Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar dan Tim Penyuluh Persampahan tidak sekadar hadir sebagai pemberi materi. Mereka menjadi jembatan—antara pengetahuan dan tindakan, antara kesadaran dan kebiasaan. Bahkan lebih dari itu, kehadiran mereka juga diwujudkan secara konkret melalui bantuan sarana biopori dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, yang kemudian langsung dipasang dan dimanfaatkan oleh warga di lingkungan mereka.
Sampah, selama ini, terlalu lama diperlakukan sebagai akhir dari sebuah proses. Padahal, ia hanyalah bentuk lain dari sesuatu yang belum selesai. Dalam logika alam, tidak ada yang benar-benar menjadi sia-sia. Yang ada hanya siklus yang terputus oleh cara berpikir manusia yang terlalu praktis, terlalu terburu-buru untuk membuang tanpa sempat memahami.
Di sinilah biopori menemukan relevansinya. Ia bukan sekadar lubang vertikal di tanah. Ia adalah perlawanan kecil terhadap budaya buang. Ia mengajarkan bahwa tanah tidak menolak apa yang kita buang, selama kita mengembalikannya dengan cara yang benar.
Bantuan biopori dari Dinas Lingkungan Hidup itu menjadi simbol penting: bahwa negara hadir, tetapi perubahan tetap bertumpu pada warga yang bersedia merawat dan menggunakannya. Sisa makanan yang biasanya berakhir sebagai bau di tong sampah, di tangan warga Paccerakkang justru menjadi bahan baku kehidupan baru—kompos yang akan menyuburkan kembali tanah yang sama.
Sementara itu, eco-enzyme menawarkan narasi yang tak kalah menarik. Dari kulit buah dan sayuran yang dianggap limbah, lahir cairan serbaguna yang bisa membersihkan, menyuburkan, bahkan menyembuhkan lingkungan. Ia seperti metafora sederhana tentang kehidupan: bahwa sesuatu yang terbuang pun masih menyimpan daya guna, asal kita cukup sabar untuk mengolahnya.
Namun yang paling menarik dari kegiatan ini bukanlah teknologi sederhana itu sendiri. Bukan pula metode yang sebenarnya sudah lama dikenal. Yang paling penting adalah keberanian untuk memulai dari hal kecil, dari lingkup yang paling dekat: rumah.
Di tengah diskursus besar tentang krisis lingkungan, perubahan iklim, dan kota berkelanjutan, kita sering terjebak dalam skala yang terlalu luas. Kita menunggu kebijakan besar, proyek besar, atau intervensi besar. Padahal, seperti yang ditunjukkan warga Paccerakkang, perubahan justru sering lahir dari ruang-ruang kecil yang konsisten.
Momen makan bersama dalam kegiatan itu menjadi simbol yang nyaris puitis. Di sana, kebersamaan tidak berhenti pada meja makan. Ia berlanjut hingga ke lubang biopori, ketika sisa makanan tidak dibuang, melainkan “dikembalikan” ke bumi. Sebuah siklus yang utuh: dari tanah, ke meja, lalu kembali ke tanah.
Ada kesadaran baru yang tumbuh pelan-pelan. Bahwa menjaga lingkungan bukanlah sesuatu yang jauh, bukan pula sesuatu yang eksklusif bagi aktivis atau pemerintah. Ia adalah tindakan sehari-hari yang bisa dimulai dari dapur sendiri.
Ketua RT mungkin tidak berbicara dengan istilah-istilah besar seperti “ekonomi sirkular” atau “resiliensi lingkungan”. Namun harapannya sederhana dan justru karena itu menjadi kuat: agar warga terbiasa memilah dan mengolah sampahnya sendiri. Sebuah harapan yang, jika direplikasi, bisa mengubah wajah kota.
Makassar, seperti banyak kota lain, menghadapi persoalan klasik: volume sampah yang terus meningkat, sementara ruang untuk menampungnya semakin terbatas. Dalam situasi seperti ini, solusi tidak bisa lagi hanya bertumpu pada hilir. TPA bukanlah jawaban, melainkan konsekuensi.
Jawaban sesungguhnya ada di hulu—di rumah-rumah, di dapur-dapur, di kebiasaan sehari-hari. Dan warga Paccerakkang telah menunjukkan bahwa itu bukan sesuatu yang mustahil.
Apa yang mereka lakukan mungkin terlihat kecil. Hanya beberapa lubang biopori—yang sebagian merupakan bantuan langsung dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar—dan beberapa botol eco-enzyme. Namun kota tidak pernah berubah oleh sesuatu yang besar secara tiba-tiba. Ia berubah oleh akumulasi tindakan-tindakan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Lubang-lubang kecil itu, pada akhirnya, bukan hanya menyerap air dan sampah organik. Ia menyerap ketidakpedulian, lalu perlahan mengubahnya menjadi kesadaran.
Dan dari sana, sebuah kota yang lebih bersih—bahkan mungkin kota minim sampah—tidak lagi terdengar seperti utopia. Ia mulai menemukan bentuknya, satu lubang biopori pada satu waktu.
Eksplorasi konten lain dari iniklik
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
